• Oleh Adoekee seugepoh

Opini,Aceh – Ada satu sifat manusia yang terkadang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan, yaitu ketika seribu kebaikan yang pernah kita berikan tidak lagi berarti apa-apa, hanya karena satu kesalahan yang kita lakukan. Segala jasa dilupakan, pengorbanan dihapus dari ingatan dan keburukan justru dipertontonkan seolah-olah itulah satu-satunya cerita tentang diri kita.

Begitulah kenyataan hidup Ketika kita membantu tidak semua orang ingat Ketika kita berkorban, tidak semua orang menghargai. Bahkan, ketika kita berdiri di samping seseorang saat ia terpuruk, belum tentu ia akan tetap berdiri di samping kita ketika keadaan berbalik.

Ironisnya, saat membutuhkan pertolongan, seseorang bisa datang dengan penuh harapan. Namun, setelah keinginannya tercapai dan kehidupannya membaik, orang yang dahulu membantunya justru dianggap tidak pernah berjasa. Lebih menyakitkan lagi, ketika orang yang pernah menolong itu melakukan satu kesalahan, dialah yang paling cepat dihakimi, dicela, bahkan dijatuhkan.

Seolah-olah seribu kebaikan tidak pernah terjadi. Seolah-olah pengorbanan selama ini tidak memiliki arti. Seolah-olah satu kesalahan cukup menjadi alasan untuk menghapus seluruh sejarah kebaikan seseorang.

Apakah memang semurah itu harga sebuah jasa di mata manusia, Kita perlu menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Orang yang hari ini kita banggakan bisa saja melakukan kesalahan esok hari. Orang yang selama ini kita anggap baik juga memiliki kekurangan. Begitu pula orang yang pernah berbuat salah, bukan berarti seluruh hidupnya hanya berisi keburukan.

Jangan karena menemukan satu noda, kita merasa berhak membakar seluruh lembaran kebaikan seseorang. Kesalahan memang patut dikoreksi, tetapi bukan berarti semua jasa harus diingkari. Jika memang ingin menegur, tegurlah dengan cara yang bermartabat. Jika ingin mengingatkan, ingatkanlah dengan hati yang jernih, bukan dengan niat mempermalukan.

Sebab, menegur dan menjatuhkan adalah dua perkara yang berbeda. Orang yang tulus ingin memperbaiki akan mencari jalan untuk menyelesaikan masalah. Sebaliknya, orang yang memang ingin menjatuhkan akan terus mengungkit kesalahan, sekalipun persoalan sebenarnya sudah selesai.

Lebih menyedihkan lagi ketika keburukan seseorang dijadikan bahan pembicaraan ke mana-mana, sementara kebaikan yang pernah diterima sengaja disembunyikan. Di hadapan orang banyak, jasa dilupakan, kesalahan dibesarkan dan kehormatan seseorang seakan tidak lagi memiliki harga.

Inilah yang patut direnungkan jangan sampai kita menjadi manusia yang pandai menikmati kebaikan tetapi kehilangan hati untuk menghargai orang yang memberikannya.

Jangan merasa paling suci hanya karena hari ini kita menemukan kesalahan orang lain. Bisa jadi, orang yang sedang kita hina adalah orang yang dahulu membantu kita ketika tidak ada seorang pun yang peduli. Bisa jadi, orang yang sekarang kita rendahkan adalah orang yang pernah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan kepentingannya sendiri demi membantu kita berdiri.

Namun, setelah kita mampu berdiri tegak, kita justru berbalik badan dan berpura-pura tidak mengenalnya. Jika itu yang terjadi, persoalannya bukan lagi sekadar melupakan jasa melainkan tentang hilangnya rasa terima kasih dan merosotnya penghargaan terhadap sesama manusia. Ingatlah orang yang berjasa tidak menuntut untuk dipuja, tetapi jangan pula memperlakukannya seolah-olah ia tidak pernah berbuat apa-apa. Tidak semua kebaikan harus dibayar dengan materi, tetapi setidaknya balaslah dengan penghormatan, kejujuran dan sikap yang tidak merendahkan.

Kita juga harus berani bercermin. Jangan hanya sibuk menghitung kesalahan orang lain, sementara kesalahan diri sendiri disimpan rapat-rapat. Jangan menuntut orang lain selalu berbuat baik kepada kita, tetapi ketika mereka melakukan kekeliruan, kita langsung kehilangan rasa kemanusiaan.

Hari ini mungkin kita berada di posisi yang lebih baik. Kita mungkin memiliki jabatan, kekuasaan, pengaruh, atau kehidupan yang lebih mapan. Namun, semua itu tidak menjamin bahwa kita akan selalu berada di atas. Kehidupan terus berputar, keadaan dapat berubah, dan tidak seorang pun tahu siapa yang kelak membutuhkan pertolongan.

Karena itu, jangan pernah merendahkan orang yang pernah berjasa dalam perjalanan hidup kita. Jangan mengira bahwa melupakan seseorang yang pernah membantu adalah tanda kekuatan. Justru, kemampuan menghargai jasa orang lain ketika hubungan sudah tidak lagi dekat merupakan bukti kedewasaan dan kemuliaan hati.

Pada seribu kebaikan yang tidak dihargai bukan berarti kebaikan itu sia-sia. Begitu pula satu kesalahan tidak otomatis menghapus seluruh kebaikan yang pernah dilakukan seseorang. Biarlah waktu menjadi saksi. Biarlah perilaku yang berbicara. Sebab, manusia bisa menyusun cerita untuk membenarkan dirinya tetapi sikap dan perbuatannya akan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.

Jangan bangga karena berhasil menemukan kelemahan orang lain. Jangan merasa menang karena mampu mempermalukan seseorang yang pernah berjasa. Sebab kemenangan yang dibangun di atas penghinaan dan pengingkaran jasa tidak selalu mencerminkan kemuliaan.

Jadilah manusia yang tahu berterima kasih, bukan manusia yang hanya tahu memanfaatkan. Jadilah pribadi yang berani mengakui kesalahan, bukan orang yang sibuk mencari kesalahan orang lain. Dan jangan pernah mengubur seribu kebaikan hanya untuk memamerkan satu keburukan.

Sebab pada akhirnya yang membuat seseorang benar-benar hina bukanlah ketika ia pernah melakukan kesalahan, melainkan ketika ia kehilangan kerendahan hati untuk mengakui kebaikan orang lain dan kehilangan rasa malu untuk mengingkari jasa yang pernah diterimanya. Jangan sampai kita begitu lantang membicarakan keburukan orang lain, tetapi lupa bahwa kita pernah hidup dari kebaikan yang diberikannya.

Sigli, 21 Oktober 2026

Penulis: Adoekee Seugopoh