SIGLI, 1-Pena.com – Gemerlap panggung dan riuh ribuan warga di halaman Pidie Convention Center (PCC), Sigli, menandai berakhirnya rangkaian peringatan Uroe Lahè Pidie ke-515. Sabtu malam (20/9/2026).
Namun, di balik kemeriahan penutupan, terselip pesan penting dari Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H.: peringatan Uroe Lahè tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan.
Sarjani justru melempar tantangan agar pelaksanaan tahun berikutnya tidak hanya semakin meriah, tetapi juga meninggalkan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat.
Penutupan tersebut dipimpin langsung Bupati Sarjani, didampingi Wakil Bupati Alzaizi Umar, Sekda Drs. Samsul Azhar, Ketua DPRK Pidie Anwar Sastra Putra, S.H., jajaran Forkopimda, para Asisten, kepala SKPK, camat se-Kabupaten Pidie, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, hingga ribuan warga.
Dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan masyarakat yang telah ikut menyukseskan rangkaian kegiatan.
Tetapi bagi Sarjani, Uroe Lahè bukan sekadar panggung hiburan, keramaian, dan seremoni tahunan. Momentum tersebut harus menjadi ruang untuk mengingat sejarah, merawat identitas daerah, sekaligus mendorong masyarakat agar ikut mengambil bagian dalam pembangunan Pidie.
“Uroe Lahè Pidie merupakan momentum untuk mengenang sejarah, menghargai jasa para pendahulu, sekaligus menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus membangun Pidie menjadi daerah yang lebih baik,” ujar Sarjani.
Jangan Berhenti di Panggung
Pesan lain yang tak kalah penting adalah soal pembangunan.
Pemerintah daerah tidak mungkin bekerja sendirian. Pembangunan Pidie membutuhkan keterlibatan Forkopimda, DPRK, ulama, tokoh adat, pemuda, pelaku usaha, hingga masyarakat.
Karena itu, kemeriahan Uroe Lahè harus mampu diterjemahkan menjadi gerakan yang lebih panjang setelah panggung ditutup.
Salah satu yang disorot adalah sektor ekonomi masyarakat. Expo UMKM yang melibatkan 23 kecamatan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang diharapkan mampu menggerakkan aktivitas ekonomi selama peringatan berlangsung.
Sarjani meminta perangkat daerah terkait tidak berhenti pada penyelenggaraan kegiatan. Pelaku UMKM harus terus mendapatkan pendampingan sehingga momentum seperti Uroe Lahè dapat membuka akses pasar dan peluang usaha yang lebih berkelanjutan.
Dengan kata lain, setelah lampu panggung padam, jangan sampai peluang ekonomi masyarakat ikut padam.
Tantangan untuk Tahun Depan
Penutupan Uroe Lahè Pidie ke-515 akhirnya bukan hanya menjadi tanda berakhirnya sebuah rangkaian acara.
Pernyataan Bupati Sarjani menjadi semacam pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah: bagaimana menjadikan sejarah dan budaya bukan hanya sesuatu yang diperingati, tetapi juga menjadi kekuatan pembangunan dan ekonomi masyarakat.
Penutupan semakin semarak dengan penampilan Sanggar Suloh Nanggroe dan Rapai Grimpheng, disusul penyerahan hadiah Festival Anak Shaleh serta lomba paduan suara Hymne Aceh.
Ribuan warga pun meninggalkan halaman PCC setelah seluruh rangkaian acara berakhir. Namun satu kalimat Bupati Sarjani patut menjadi catatan untuk pelaksanaan tahun berikutnya:
InsyaAllah tahun depan kita buat lebih meriah lagi, lebih bermakna, dan lebih memberi manfaat untuk rakyat.”
Kini tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana membuat Uroe Lahè lebih ramai. Pertanyaannya: seberapa besar kemeriahan itu nantinya benar-benar meninggalkan manfaat bagi rakyat Pidie











