Jakarta : Cita cita mulia Dr. Iswadi, M.Pd berakar dari kepedulian mendalam terhadap kondisi pendidikan di Indonesia. Baginya, pendidikan bukan sekadar aktivitas di ruang kelas, kumpulan buku pelajaran, atau deretan ujian, melainkan fondasi utama dalam membangun peradaban yang adil, beradab, dan berkemajuan.
Kesadaran tersebut tumbuh dari perjalanan panjangnya di dunia pendidikan. Dalam berbagai pengalaman, ia menyaksikan secara langsung realitas ketimpangan yang masih terjadi. Tidak sedikit anak-anak Indonesia yang kesulitan mengakses pendidikan berkualitas akibat keterbatasan ekonomi, tantangan geografis, maupun hambatan sosial. Di satu sisi, terdapat sekolah dengan fasilitas lengkap dan tenaga pengajar unggul, sementara di sisi lain masih banyak lembaga pendidikan yang kekurangan sarana dasar.
Menurut Dr. Iswadi, ketimpangan ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan dari belum meratanya perhatian dan arah kebijakan. Kondisi tersebut mendorongnya untuk tidak hanya berkontribusi sebagai akademisi, tetapi juga berupaya menghadirkan perubahan yang lebih luas dan sistemik.
Selama ini, ia telah aktif menyumbangkan pemikiran melalui penelitian dan praktik pendidikan. Namun, ia menyadari bahwa transformasi besar tidak cukup hanya dilakukan dari ruang akademik. Diperlukan kebijakan yang kuat, terarah, dan berpihak pada keadilan. Dari sinilah muncul tekadnya untuk dapat berperan di kabinet pemerintahan, sebagai sarana pengabdian yang lebih luas, bukan semata mata untuk meraih kekuasaan.
Dalam pandangannya, pendidikan yang setara berarti setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, maupun lokasi geografis. Tidak boleh ada anak yang tertinggal hanya karena ia lahir di daerah terpencil atau berasal dari keluarga kurang mampu. Pendidikan harus menjadi jembatan yang menghubungkan potensi dengan peluang, bukan menjadi penghalang yang memperlebar kesenjangan.
Selain itu, Dr. Iswadi juga mengusung konsep pendidikan yang membebaskan. Ia meyakini bahwa pendidikan tidak seharusnya mengekang kreativitas atau memaksakan keseragaman. Sebaliknya, pendidikan harus mampu membuka ruang bagi setiap individu untuk berpikir kritis, berani berpendapat, serta menemukan jati dirinya.
Dalam kerangka ini, siswa perlu ditempatkan sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran, bukan sekadar penerima informasi. Guru pun diharapkan berperan sebagai fasilitator yang menginspirasi, membimbing, dan memberdayakan. Dengan pendekatan ini, pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga mampu berpikir mandiri dan adaptif.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya reformasi kurikulum agar lebih relevan dengan perkembangan zaman. Dunia terus berubah dengan cepat, terutama di era digital. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu membekali generasi muda dengan keterampilan abad ke-21, seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital. Tanpa pembaruan tersebut, pendidikan berisiko tertinggal dan tidak mampu menjawab kebutuhan masa depan.
Dr. Iswadi juga menaruh perhatian besar pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru. Ia memandang guru sebagai ujung tombak dalam sistem pendidikan. Guru yang sejahtera, dihargai, dan terus dikembangkan kompetensinya akan lebih mampu menjalankan perannya secara optimal. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan harus memberikan ruang yang lebih besar bagi pengembangan profesional serta perlindungan bagi para pendidik.
Keinginannya untuk berkontribusi di kabinet juga dilandasi oleh dorongan untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan dan realitas di lapangan. Selama ini, tidak sedikit kebijakan yang dirancang tanpa mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi oleh guru dan siswa. Dengan pengalaman yang dimilikinya, ia berharap dapat menghadirkan kebijakan yang lebih kontekstual, implementatif, dan tepat sasaran.
Meski jalan menuju kabinet bukanlah hal yang mudah, Dr. Iswadi tetap teguh pada cita citanya. Ia percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari niat yang tulus dan langkah yang konsisten. Dengan semangat pengabdian, ia terus memperluas kontribusi, membangun jaringan, serta menyuarakan gagasan-gagasannya demi kemajuan pendidikan Indonesia.
Pada akhirnya, cita cita Dr. Iswadi bukan hanya tentang posisi atau jabatan, melainkan tentang dampak yang ingin ia ciptakan. Ia ingin memastikan bahwa pendidikan benar-benar menjadi alat pembebasan yang memerdekakan setiap individu, sekaligus menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan masyarakat yang adil, setara, dan berkemajuan.











