Malintang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto hingga kini belum dirasakan oleh para siswa di MTs GUPPI Malintang, Kabupaten Mandailing Natal. Kondisi tersebut memicu sorotan dan kekecewaan dari wali murid maupun warga setempat terhadap kepemimpinan Kepala Madrasah, Amir Mahmud Batubara.
Sejumlah warga menilai Kepala Madrasah kurang maksimal dalam menjalankan koordinasi terkait program MBG, mulai dari proses pengajuan, pendataan hingga komunikasi dengan pihak SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang menyediakan dapur MBG di wilayah Malintang.
Saat ditemui media pada Rabu (21/05), seorang siswa bernama Ucok Batubara (16) mengaku kecewa karena program yang dinantikannya belum juga hadir di sekolahnya. Ia menyebut sekitar 130 lebih siswa belum mendapatkan manfaat dari program tersebut.
“Kami kecewa dengan kepemimpinan Kepala Madrasah karena dinilai tidak peduli dengan pendidikan dan keadaan ekonomi siswa. Padahal kami sangat membutuhkan program MBG ini,” ujarnya.
Ucok mengatakan informasi mengenai masuknya program MBG ke sekolah mereka sudah lama terdengar. Namun hingga kini program tersebut belum juga terealisasi.
“Saya kira program ini akan ada di sekolah kami. Tapi ternyata sampai sekarang belum ada. Informasi yang kami terima karena lemahnya koordinasi kepala madrasah dengan pihak SPPG,” tambahnya.
Hal senada juga disampaikan wali murid, A. Matondang. Ia berharap pemerintah segera memastikan program MBG dapat menjangkau MTs GUPPI Malintang, mengingat mayoritas orang tua siswa berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
“Anak-anak sangat membutuhkan MBG. Orang tua siswa bisa terbantu dalam penyediaan makanan anak selama sekolah,” katanya.
Sementara itu, warga lainnya, Boru Lubis, menilai program MBG sangat penting bagi para siswa. Menurutnya, kondisi ekonomi sebagian orang tua murid cukup memprihatinkan sehingga tidak sedikit siswa yang berangkat sekolah tanpa sarapan maupun uang jajan.
“Adanya program MBG sangat membantu orang tua murid, khususnya yang kurang mampu. Minimal anak-anak sudah mendapat makanan saat di sekolah,” ungkapnya.
Ia juga menyayangkan belum masuknya program tersebut ke MTs GUPPI Malintang, padahal sejumlah sekolah lain di wilayah sekitar disebut sudah menerima manfaat MBG.
“Sekolah lain sudah dapat MBG. Masa di madrasah ini belum juga kebagian. Ini membuat warga semakin meragukan kepemimpinannya,” tegasnya.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp ke nomor pribadinya, Amir Mahmud membenarkan bahwa hingga saat ini MTs GUPPI Malintang belum menerima program MBG.
“MTs GUPPI Malintang sampai hari ini belum pernah menerima MBG,” tulisnya.
Namun saat ditanya mengenai penyebab belum masuknya program tersebut, Amir mengaku tidak mengetahui secara pasti alasannya.
“Penyebabnya saya kurang tahu pak,” jawabnya.
Ia mengaku pernah mengirimkan data sebanyak 132 siswa kepada Kepala SPPG Pasar Baru Malintang bernama Wahyu melalui pesan WhatsApp pada 13 Januari 2026 sebagai tindak lanjut permintaan data dari pihak SPPG.
“Permintaan datanya melalui pesan WhatsApp, bukan melalui surat,” jelasnya.
Selain persoalan MBG, muncul pula pertanyaan terkait legalitas yayasan baru madrasah yang disebut-sebut telah dibentuk. Amir Mahmud mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Ketua Yayasan Muhammad Adanan Matondang dan pengurus yayasan Hasan Azhari.
Namun ketika ditanya lebih lanjut mengenai legalitas yayasan, prosedur pembentukan, waktu pelaksanaan musyawarah, pihak-pihak yang terlibat hingga dasar pembentukannya, Amir terlihat enggan memberikan penjelasan rinci.
Kondisi tersebut memunculkan berbagai asumsi dan tanda tanya di tengah masyarakat terkait keabsahan yayasan baru yang dinilai kontroversial dan membingungkan warga.










