Pidie – Komando Distrik Militer (Kodim) 0102/Pidie menggelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 dengan mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” di Lapangan Indoor Makodim 0102/Pidie, Jalan Prof. A. Majid, Desa Lampuedue Baroh, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, Senin (1/6/2026).
Upacara berlangsung khidmat dan dipimpin langsung oleh Dandim 0102/Pidie, Letkol Inf Abdul Hadi, S.Sos. Kegiatan tersebut diikuti para Danramil jajaran Kodim 0102/Pidie, para Perwira Staf, personel TNI, serta Pegawai Negeri Sipil (PNS) TNI di lingkungan Kodim 0102/Pidie.
Dalam kesempatan itu, Inspektur upara Dandim 0102/Pidie Letkol Inf Abdul Hadi membacakan amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia. Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi nasional untuk memastikan nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Hari ini, 1 Juni 2026, kita kembali berdiri di atas tanah pusaka untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Lebih dari sekadar seremoni tahunan, hari ini adalah momentum refleksi untuk memastikan bahwa api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia,” demikian kutipan amanat yang dibacakan Dandim.
Amanat tersebut menekankan bahwa tema yang diusung tahun ini merupakan penegasan bahwa Pancasila tidak hanya relevan sebagai perekat persatuan bangsa Indonesia yang majemuk, tetapi juga memiliki nilai universal yang dapat menjadi fondasi bagi terciptanya perdamaian dunia.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, mulai dari perkembangan teknologi yang sangat cepat hingga ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia, Pancasila disebut tetap menjadi “bintang penuntun” sekaligus “jangkar moral” bagi bangsa Indonesia.
Dengan keberagaman lebih dari 17 ribu pulau, ratusan suku, bahasa, dan budaya, Indonesia dinilai berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa perbedaan dapat disatukan dalam satu identitas kebangsaan yang kokoh melalui nilai-nilai Pancasila.
Selain menyoroti pentingnya menjaga persatuan nasional, amanat tersebut juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Nilai musyawarah dan mufakat yang terkandung dalam Pancasila disebut sebagai instrumen diplomasi yang relevan dalam menjembatani berbagai perbedaan serta membantu penyelesaian konflik di tingkat global. Indonesia juga dinilai telah menunjukkan peran aktif melalui kontribusi pasukan perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), upaya mediasi konflik regional, serta konsistensinya dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa yang masih menghadapi penindasan.
“Perdamaian bukan sekadar tidak adanya perang, tetapi hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,” tegas amanat tersebut.
Lebih lanjut, generasi muda diajak untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup (living ideology) dan tidak hanya dipahami sebagai simbol atau materi pelajaran semata. Nilai-nilai luhur Pancasila harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari, terutama dalam menghadapi tantangan era digital yang rentan terhadap penyebaran hoaks, intoleransi, dan polarisasi sosial.
Kepala BPIP juga menitipkan pesan kepada para pemimpin daerah dan penyelenggara pemerintahan agar setiap kebijakan publik yang dihasilkan benar-benar berlandaskan keadilan sosial, melindungi kelompok masyarakat yang rentan, serta tidak meninggalkan rakyat dalam proses pembangunan.
Dalam amanat tersebut, seluruh elemen bangsa juga diajak untuk terus melawan berbagai bentuk intoleransi, radikalisme, dan tindakan yang berpotensi merusak harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara.











