Pangkalpinang – Di tengah semarak perayaan Idul Adha yang kerap dimaknai sebatas ritual tahunan dan seremoni simbolis, tokoh aktivis sekaligus praktisi media Bangka Belitung, Evan Satriady, melontarkan kritik tajam terkait pemaknaan kurban di tengah masyarakat modern.

Pria yang akrab disapa Kando Evan itu menegaskan bahwa esensi sejati Idul Adha bukan sekadar penyembelihan hewan kurban, melainkan ujian keikhlasan dan pengorbanan hakiki demi kepentingan kemanusiaan yang lebih luas.

Sebagai Ketua Brigade 571 Trisula Macan Putih Provinsi Bangka Belitung sekaligus Ketua Ikatan Wartawan Online, Kando Evan menilai makna pengorbanan saat ini mulai mengalami penyempitan arti dan hanya dipandang dari sisi materi semata.

“Idul Adha itu mengajarkan manusia untuk melakukan pengorbanan yang hakiki dan menghadapi ujian hidup dengan keikhlasan tingkat tinggi. Kalau cuma kurban hewan tapi hati masih penuh pamrih, kesombongan, dan abai terhadap penderitaan sesama, di mana letak maknanya? Itu bukan kurban, itu cuma ritual tanpa jiwa,” tegas Kando Evan saat ditemui di sekretariat bersama, Minggu (25/05/2026).

Menurutnya, kontribusi sosial tidak seharusnya hanya diukur dari kemampuan finansial atau banyaknya hewan kurban yang disembelih. Ia menekankan bahwa pengorbanan tenaga, pikiran, dan kepedulian sosial juga merupakan bentuk kurban yang bernilai tinggi.

Kando Evan menjelaskan bahwa substansi Idul Adha sesungguhnya terletak pada keikhlasan membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan, popularitas, maupun kepentingan politik tertentu.

“Bagi mereka yang belum mampu secara materi, menyumbangkan tenaga, pikiran, dan menjaga ketulusan hati dalam kehidupan bermasyarakat juga merupakan bentuk pengorbanan yang mulia,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi bangsa yang dinilainya mulai kekurangan figur-figur yang rela berkorban demi kepentingan bersama tanpa pamrih pribadi.

Di akhir penyampaiannya, Kando Evan mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda dan kalangan aktivis di Bangka Belitung, untuk menginternalisasi nilai-nilai keikhlasan dan semangat berkorban dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga semangat berkorban dengan keikhlasan ini tidak hilang setelah hari raya usai. Nilai itu harus melekat dalam kehidupan sosial kita agar keadilan dan keharmonisan benar-benar dapat terwujud di tengah masyarakat,” pungkasnya.