PIDIE JAYA – Kesempatan mengabdi kepada bangsa dan negara tidak boleh hanya menjadi cita-cita di atas kertas. Generasi muda, termasuk kalangan santri, harus berani mengambil peran dan membuktikan kemampuan. Pesan inilah yang dibawa Dandim 0102/Pidie Letkol Inf Abdul Hadi, S.Sos., saat menyambangi Pondok Pesantren Darul Munawwarah, Kuta Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Selasa (3/11/2026).
Kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi seremonial. Di hadapan para santriwan dan santriwati, Dandim secara langsung membuka wawasan mengenai peluang menjadi prajurit TNI Angkatan Darat melalui penerimaan Bintara dan Tamtama PK Gelombang I Tahun 2027.
Kehadiran pimpinan Kodim 0102/Pidie itu sekaligus membawa pesan tegas bahwa santri tidak boleh dipandang sebelah mata. Latar belakang pendidikan pesantren bukan penghalang untuk meraih cita-cita menjadi prajurit, selama memiliki kemampuan, memenuhi persyaratan, dan bersungguh-sungguh mempersiapkan diri.
Kedatangan Dandim bersama rombongan disambut langsung Pimpinan Pondok Pesantren Darul Munawwarah, Tgk. H. Anwar Usman, S.Pd.I., M.M., bersama dewan guru dan para santri.
Turut hadir Pabung Pidie Jaya Mayor Inf Ruslan, Danramil 20/Bandar Dua Kapten Inf Ferial, Pasi Intel Kodim 0102/Pidie Kapten Inf Akhmad Rinjani Elmi, serta Pasi Pers Kodim 0102/Pidie Kapten Inf A. Fitra.
Dalam sambutannya, Tgk. H. Anwar Usman menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Ia menilai kehadiran langsung Dandim menjadi kesempatan berharga bagi para santri untuk mendapatkan informasi yang selama ini mungkin belum mereka ketahui secara mendalam, terutama mengenai peluang pengabdian melalui institusi TNI AD.
Sementara itu, Letkol Inf Abdul Hadi menegaskan bahwa TNI membutuhkan generasi muda yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki mental tangguh, disiplin, integritas, dan karakter yang baik.
Menurutnya, santri memiliki bekal penting berupa pendidikan agama, pembentukan akhlak, serta kedisiplinan yang dapat menjadi modal dalam meniti jalan pengabdian sebagai prajurit.
Dalam sosialisasi tersebut, Dandim menyampaikan informasi mengenai ketentuan usia dan tinggi badan calon peserta yang dipaparkan dalam kegiatan.
“Pada tahun ini ada dua hal yang memberikan peluang lebih luas bagi calon peserta, yaitu terkait batas usia dan tinggi badan. Usia mulai 17 hingga 26 tahun, sedangkan tinggi badan minimal Bintara 163 sentimeter dan Tamtama 158 sentimeter. Proses penerimaan ini gratis, mulai dari seleksi hingga lulus pendidikan,” tegasnya.
Namun, ada satu pesan yang secara khusus ditekankan Dandim kepada para santri: jangan pernah menggantungkan kelulusan pada calo.
Ia mengingatkan bahwa praktik percaloan hanya akan merugikan masyarakat dan mencederai prinsip penerimaan prajurit yang harus mengutamakan kemampuan serta hasil seleksi.
“Jangan percaya kepada calo-calo yang menjanjikan kelulusan dengan meminta uang. Penerimaan prajurit TNI AD tidak dipungut biaya. Tidak ada alasan untuk membayar siapa pun demi mendapatkan kelulusan,” tegasnya.
Dandim juga mengajak para santri agar tidak minder dan tidak merasa kalah bersaing dengan generasi muda dari lembaga pendidikan lainnya.
“Kesempatan terbuka bagi seluruh putra-putri Indonesia. Jangan hanya bermimpi menjadi prajurit, tetapi persiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Jaga kesehatan, tingkatkan kemampuan fisik, disiplin dalam belajar, dan tanamkan tekad untuk mengabdi kepada bangsa dan negara,” tambahnya.
Pesan tersebut diperkuat melalui pemutaran video perjalanan kehidupan Dandim 0102/Pidie, mulai dari masa kecil, pendidikan, hingga perjuangannya meniti karier sebagai prajurit TNI.
Tayangan itu memberikan gambaran kepada para santri bahwa keberhasilan tidak datang secara tiba-tiba. Ada perjuangan, pengorbanan, kedisiplinan, dan proses panjang yang harus dilalui sebelum seseorang mencapai cita-citanya.
Sosialisasi kemudian dilanjutkan Pasi Pers Kodim 0102/Pidie Kapten Inf A. Fitra. Ia menjelaskan secara terperinci mekanisme penerimaan calon prajurit TNI AD melalui jalur Bintara dan Tamtama, mulai dari pemeriksaan administrasi, kesehatan, kesamaptaan jasmani, psikologi, hingga tahapan seleksi lainnya.
Kapten Inf A. Fitra kembali mengingatkan bahwa seluruh proses penerimaan dilaksanakan secara gratis, transparan, objektif, dan akuntabel. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah terpengaruh oleh oknum yang mengaku memiliki akses khusus atau menjamin kelulusan dengan imbalan uang.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pesantren bukan hanya tempat mencetak generasi yang memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki potensi besar melahirkan generasi bangsa yang siap berkontribusi dalam berbagai bidang pengabdian.
Kunjungan tersebut, Kodim 0102/Pidie berharap semakin banyak santri yang berani bermimpi lebih tinggi dan mengambil kesempatan untuk menjadi bagian dari TNI AD.
Pengabdian kepada bangsa dan negara bukan ditentukan dari mana seseorang berasal, melainkan dari tekad, kemampuan, kedisiplinan, dan kesungguhannya dalam memperjuangkan cita-cita.











