JAKARTA – Ikatan Pilot Alumni Curug (IPAC) menaruh perhatian serius terhadap persoalan penyerapan tenaga kerja di sektor penerbangan, khususnya bagi para pilot muda lulusan sekolah penerbang yang hingga kini belum memperoleh kesempatan bekerja.

Ketua Umum IPAC periode 2026–2029, Capt. Ade Hendriady (Penerbang Course 36), menegaskan bahwa salah satu prioritas kepengurusan ke depan adalah membuka akses dan memperluas peluang kerja bagi para pilot, terutama pemegang Commercial Pilot License (CPL) yang baru menyelesaikan pendidikan.

Hal tersebut disampaikan Ade setelah terpilih dalam Kongres III IPAC yang berlangsung pada Minggu (1/11/2026).

Menurutnya, IPAC akan mengambil langkah konkret dengan membangun komunikasi dan melakukan audiensi dengan berbagai pemangku kepentingan di industri penerbangan, termasuk perusahaan maskapai, baik yang bergerak di sektor pesawat bersayap tetap (fixed wing) maupun helikopter (rotary wing).

“Dalam jangka pendek, tentu kami akan berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan penerbangan, terutama memberikan job opportunities bagi para pilot muda yang hari-hari ini belum mendapatkan pekerjaan,” ujar Ade.

Ia menjelaskan, upaya tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi para penerbang muda untuk memasuki dunia kerja sekaligus memperkuat regenerasi pilot nasional.

Ade mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki IPAC, jumlah pilot Indonesia yang bekerja di luar negeri atau menjadi diaspora penerbangan telah mencapai lebih dari 900 orang. Di sisi lain, masih terdapat lebih dari 1.000 pilot yang belum memperoleh pekerjaan di dalam negeri.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi IPAC. Ade berharap para pilot Indonesia yang telah memiliki kompetensi dan pengalaman dapat berkontribusi di luar negeri, sementara peluang kerja di dalam negeri semakin terbuka bagi generasi penerbang berikutnya.

“Ini menjadi fokus kami. Kami ingin pilot-pilot yang kompeten bisa bekerja di luar negeri, sehingga tempat di Indonesia dapat diisi oleh adik-adik atau generasi penerbang yang baru lulus dan belum mendapatkan pekerjaan,” ungkapnya.

Ade juga menyoroti potensi perkembangan industri teknologi drone yang dinilai dapat menjadi salah satu alternatif lapangan kerja bagi para pilot muda. Menurutnya, perusahaan-perusahaan yang mengembangkan teknologi tersebut berpotensi membutuhkan tenaga penerbang untuk mengoperasikan pesawat nirawak.

“Kami melihat ada perusahaan teknologi drone yang diawaki oleh pilot. Mudah-mudahan nanti ada ruang bagi adik-adik yang memiliki CPL untuk dapat mengoperasikannya sebagai pilot, meskipun regulasinya saat ini belum sepenuhnya final,” jelasnya.

Ia menegaskan, perhatian IPAC terhadap peluang kerja tidak terbatas pada anggota organisasi. Para lulusan sekolah penerbang dari berbagai institusi, baik di dalam maupun luar negeri, juga merupakan bagian dari ekosistem pilot Indonesia yang perlu mendapat perhatian.

“Anggota IPAC sendiri berjumlah 2.803 orang. Namun, kami tidak hanya melihat pilot lulusan Curug. Saya berharap kita semua adalah pilot Indonesia, no matter what flying school you are coming from,” tegas Ade.

Tingkatkan Kompetensi dan Kemampuan Bahasa Inggris

Selain membuka peluang kerja, Ade berpesan kepada generasi muda yang berminat menempuh pendidikan penerbangan agar mempersiapkan diri secara serius, terutama dalam meningkatkan kompetensi dan kemampuan berbahasa Inggris.

Menurutnya, penguasaan bahasa Inggris menjadi kebutuhan mendasar dalam profesi penerbang, mengingat bahasa tersebut merupakan bahasa komunikasi utama dalam dunia penerbangan internasional.

“Pesan saya kepada adik-adik yang ingin masuk sekolah pilot, belajar, belajar, dan belajar. Terutama karena kita menggunakan bahasa Inggris. Penguasaan bahasa Inggris harus terus kita tingkatkan,” tuturnya.

Ia menilai, kemampuan berbahasa Inggris yang baik akan menjadi modal penting bagi para pilot Indonesia untuk bersaing dan memperoleh peluang kerja di berbagai negara.

Perkuat Jejaring Antar-Pilot di Tengah Tantangan Industri

Ade turut menyoroti kondisi industri penerbangan global yang tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kenaikan harga bahan bakar hingga dinamika geopolitik internasional yang berdampak terhadap operasional dan kebutuhan tenaga kerja penerbangan.

Dalam situasi tersebut, ia menilai solidaritas dan jejaring antarpilot menjadi semakin penting. IPAC, kata Ade, akan mendorong komunikasi dan pertukaran informasi mengenai peluang kerja di berbagai negara.

Ia mencontohkan, ketika terdapat pilot Indonesia yang kehilangan pekerjaan di suatu negara, informasi mengenai kesempatan kerja di negara lain dapat menjadi alternatif untuk membantu mereka tetap bertahan di industri penerbangan.

“Harapannya, kita sebagai pilot tetap membangun networking di antara kita semua. Kalau ada pilot yang kehilangan pekerjaan di Arab Saudi, misalnya, kami bisa memberikan informasi tentang peluang di Jepang, Korea, China, Taiwan, dan negara lainnya,” ujarnya.

Ade yang juga memiliki pengalaman bekerja di Taiwan menekankan pentingnya saling berbagi informasi dan memperkuat komunikasi antarpilot Indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Menurutnya, langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan karier para penerbang sekaligus mempertahankan kesempatan kerja di industri penerbangan nasional.

Melalui kepengurusan periode 2026–2029, IPAC berharap dapat memperkuat peran organisasi sebagai wadah pemersatu pilot Indonesia, sekaligus menjadi jembatan bagi generasi penerbang muda untuk mendapatkan kesempatan berkarier dan berkontribusi bagi kemajuan dunia penerbangan Tanah Air.

(Ag)