Pidie,1-pena.com: Semangat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Geumpang Kabupaten Pidie, tahun ini tidak sekadar diwarnai seremoni. Beragam kegiatan masyarakat, mulai dari MTQ, turnamen sepak bola, karnaval, lomba seni pelajar hingga pertunjukan Rapai Daboh, menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan sekaligus merawat perdamaian yang telah dibangun setelah konflik Aceh.
Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, sosok Muhammad Yusri Syamaun atau yang akrab disapa Amat Tong, eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), ikut mengambil bagian dalam mendukung kegiatan masyarakat. Kehadirannya menjadi perhatian karena ia membawa pesan yang tegas: perjuangan di masa damai bukan lagi soal pertentangan, melainkan bagaimana masyarakat menjaga persatuan dan membangun masa depan.
“Perjuangan hari ini bukan lagi tentang siapa yang paling kuat, tetapi bagaimana kita menjaga persaudaraan. Perdamaian yang sudah kita rasakan harus kita isi dengan karya, kebersamaan dan kepedulian terhadap generasi muda,” kata Amat Tong.
Menurutnya, pengalaman panjang masa lalu seharusnya tidak menjadi alasan untuk kembali membuka sekat perbedaan. Sebaliknya, sejarah harus dijadikan pelajaran agar generasi berikutnya tidak mewarisi konflik.
“Jangan wariskan bara kepada anak cucu. Wariskan cahaya. Jangan ajarkan mereka untuk mencari perbedaan, tetapi ajarkan mereka menemukan persamaan,” ujarnya.
Geumpang Meriahkan Kemerdekaan
Rangkaian peringatan HUT ke-81 RI di Geumpang berlangsung semarak dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. MTQ tingkat Kecamatan Geumpang digelar di Gampong Keune, sedangkan Turnamen Bola Kaki Semi Open dipusatkan di Lapangan Aleu Sane, Gampong Leupue. Partai final turnamen menjadi salah satu agenda yang paling menyedot perhatian warga.
Kemeriahan berlanjut dengan karnaval yang melibatkan peserta dari TK/PAUD, SD, SMP hingga SMA. Penampilan drumband, pakaian adat, profesi serta tema perjuangan turut mewarnai kegiatan yang berada di bawah komando Koramil 17/Geumpang.
Lomba seni dan tarian pelajar juga menjadi bagian penting dalam perayaan tersebut. Pada malam hari, suasana semakin hidup dengan pertunjukan Rapai Daboh yang melibatkan kelompok seni dari Geumpang, Mane dan Pameue.
Panitia juga membagikan kaus HUT ke-81 RI kepada peserta seni rapai sebagai bentuk penghargaan kepada pelaku seni dan budaya yang ikut menjaga tradisi lokal tetap hidup di tengah masyarakat.
Mukim: Masa Lalu Bukan Penghalang untuk Mengabdi
Mukim Bangkeh, Geumpang, Tgk Samsuar M. Jamil, memberikan apresiasi terhadap keterlibatan Amat Tong dalam berbagai kegiatan masyarakat. Menurutnya, seseorang tidak seharusnya hanya dinilai dari masa lalunya, tetapi juga dari kontribusi yang diberikan setelah perdamaian hadir.
“Kita semua punya sejarah. Ada yang melewati masa sulit dan pahitnya konflik. Tetapi setelah damai, yang paling penting adalah bagaimana kita mengisi perdamaian itu,” kata Tgk Samsuar.
Ia melihat keterlibatan Amat Tong dalam kegiatan olahraga, sosial dan kemasyarakatan sebagai bentuk pengabdian dalam suasana damai.
“Amat Tong sekarang kita lihat hadir bersama masyarakat, mendukung olahraga, kegiatan seni dan kegiatan sosial. Bagi kami, itu adalah bentuk lain dari perjuangan—perjuangan untuk membangun masyarakat,” ujarnya.
Tgk Samsuar menyebut peringatan HUT RI tahun ini sebagai salah satu perayaan paling meriah selama masa damai di Geumpang. Antusiasme warga, menurutnya, menunjukkan bahwa masyarakat memiliki ruang yang kuat untuk berkumpul dan membangun kebersamaan.
Dari Konflik Menuju Ruang Kebersamaan
Rangkaian kegiatan tersebut terlaksana melalui kolaborasi Koperasi Tambang Geumpang Bersatu bersama Muspika Plus, Forum Keuchik dan Imum Mukim Geumpang.
Sejumlah kegiatan turut dihadiri Kapolsek Geumpang AKP Asnawi, Camat Geumpang Mahdi, ST, Danramil Geumpang Kapten Kav. Dian Prayatna, tokoh masyarakat serta unsur lainnya.
Keterlibatan berbagai elemen tersebut memperlihatkan bahwa semangat gotong royong masih menjadi kekuatan masyarakat Geumpang. Lapangan olahraga, panggung seni dan kegiatan keagamaan menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan masyarakat tanpa melihat latar belakang masa lalu.
Bagi Amat Tong, di situlah makna kemerdekaan seharusnya ditempatkan. Bukan hanya mengibarkan bendera, tetapi memastikan generasi muda memiliki ruang untuk berprestasi, seni dan budaya tetap hidup, serta masyarakat terus menjaga persaudaraan.
Dari Geumpang, pesan itu mengalir bukan hanya melalui pidato dan perayaan, tetapi juga melalui dentuman rapai: bahwa setelah konflik berakhir, tantangan berikutnya adalah merawat perdamaian, membangun daerah dan memastikan generasi mendatang menerima masa depan yang lebih baik.











