- Penulis: Adoekee Seugopoh
Opini – Dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi kita akan bertemu dengan berbagai macam karakter manusia. Ada yang hadir membawa ketulusan, ada yang datang dengan kepentingan dan ada pula yang pernah merendahkan, menghina serta meremehkan kita ketika keadaan tidak berpihak kepada kita.
Namun, kedewasaan mengajarkan bahwa kita tidak perlu membalas setiap perlakuan buruk dengan keburukan yang sama. Kita tidak harus menyimpan dendam tetapi kita juga tidak boleh kehilangan kebijaksanaan dalam menilai seseorang.
Ketika orang yang pernah merendahkan kita kembali hadir dalam lingkungan dan perkumpulan yang sama, sambutlah dengan sikap yang baik. Jangan menutup pintu persaudaraan tetapi jangan pula terburu-buru memberikan kepercayaan dan kedudukan seperti sediakala.
Sebab, memaafkan adalah tanda kelapangan hati, sedangkan memberikan kepercayaan kembali membutuhkan pertimbangan dan pembuktian.
Kita perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Kesalahan di masa lalu tidak selalu menjadi ukuran mutlak bagi seseorang sepanjang hidupnya. Namun, perubahan yang sesungguhnya tidak cukup dibuktikan dengan kehadiran kembali, kata-kata manis atau keinginan untuk berkumpul bersama. Perubahan harus terlihat dari sikap, cara menghargai orang lain, serta kesediaan mengakui kesalahan dan memperbaiki hubungan.
Oleh karena itu, janganlah kita mengangkat derajat seseorang hanya karena ia kembali berada di tengah-tengah kita. Berikanlah penghormatan sewajarnya kepada setiap orang, tetapi tempatkan kepercayaan dan tanggung jawab berdasarkan integritas, ketulusan, serta perbuatannya.
Kita harus mampu membedakan antara menghargai seseorang sebagai sesama manusia dan memberikan kepadanya kedudukan yang membawa pengaruh terhadap orang banyak. Menghormati adalah bagian dari adab, sedangkan memberikan amanah adalah persoalan tanggung jawab.
Dalam sebuah perkumpulan, kebersamaan memang penting. Akan tetapi, kebersamaan tidak boleh dibangun dengan melupakan prinsip, mengabaikan pengalaman atau mengorbankan orang-orang yang selama ini menjaga kehormatan dan keutuhan kelompok. Jangan sampai demi terlihat baik di hadapan semua orang, kita mengabaikan pelajaran yang telah diberikan oleh pengalaman. Sebaliknya, jangan pula pengalaman pahit membuat kita menjadi pribadi yang keras hati dan menutup segala kemungkinan bagi orang lain untuk memperbaiki diri.
Kebijaksanaan bukanlah tentang siapa yang kita singkirkan, melainkan bagaimana kita menempatkan setiap orang sesuai dengan sikap, kemampuan, dan kepercayaan yang telah dibuktikannya.
Kita boleh menerima kembali siapa pun yang ingin memperbaiki hubungan. Kita boleh duduk bersama tanpa permusuhan, berbicara tanpa kebencian, dan bekerja sama demi kepentingan bersama. Namun, kepercayaan hendaknya tumbuh secara bertahap, bukan diberikan semata-mata karena kedekatan atau hubungan masa lalu.
Pada akhirnya, waktu akan memperlihatkan siapa yang sungguh-sungguh berubah dan siapa yang hanya ingin mendapatkan kembali tempatnya. Kita tidak perlu sibuk membalas, apalagi mempermalukan mereka. Cukup bersikap tenang, menjaga prinsip, dan membiarkan perbuatan menjadi ukuran yang paling adil.
Ingatlah, orang yang bijaksana tidak menggunakan masa lalu untuk menghukum seseorang selamanya, tetapi juga tidak mengabaikan masa lalu ketika menentukan langkah ke depan.
Memaafkanlah tanpa harus menyimpan dendam. Menerimalah tanpa kehilangan kewaspadaan. Menghormatilah tanpa harus memberikan kedudukan secara berlebihan. Dan percayalah, tanpa mengabaikan bukti serta tanggung jawab.
Karena dalam kehidupan ini, kemuliaan bukan terletak pada kemampuan kita mengangkat seseorang setinggi-tingginya, melainkan pada kebijaksanaan kita dalam menempatkan setiap orang secara adil, menjaga kehormatan bersama, dan tetap berpegang teguh pada prinsip.
Bersikaplah baik kepada semua orang, tetapi berikanlah kepercayaan berdasarkan bukti. Sebab, hati yang lapang mampu memaafkan, sementara pikiran yang bijaksana tahu kapan harus memberi kesempatan dan kapan harus menjaga batas.
Sigli 19 Oktober 2026
Adoekee Seugopoh











