PIDIE – Hujan boleh turun, tetapi semangat menjaga warisan leluhur tidak boleh ikut luntur. Pesan itu terasa kuat dari stan Kecamatan Muara Tiga dalam rangkaian Peuingat Uroe Lahè Pidie ke-515.

Stan Muara Tiga tampil dengan berbagai benda dan sajian yang menggambarkan kekayaan adat serta budaya gampong. Mulai dari sampan dayung, boat langga, boat tompel, boh labu ie, todung berbahan bambu, dau limpah, jambang, hingga kuliner tradisional mie sure, semuanya dihadirkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali warisan masyarakat kepada generasi sekarang.

Kehadiran berbagai perlengkapan tradisional tersebut mendapat perhatian saat Bupati Pidie Sarjani Abdullah mengunjungi stan Muara Tiga. Kunjungan itu menjadi kesempatan untuk melihat langsung berbagai potensi adat, budaya dan kearifan lokal yang dibawa dari masyarakat Muara Tiga ke tengah perayaan Uroe Lahè Pidie. Rabu (16/9/2026).

Di balik berbagai benda yang dipamerkan, tersimpan pesan bahwa adat gampong bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia merupakan identitas masyarakat yang perlu dikenali dan diwariskan agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.

Camat Muara Tiga Mustafa,S,Sos, yang didampingi Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Supriadi, ST mengatakan pihaknya tetap bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan meski kondisi cuaca tidak bersahabat.

“Kami tak memandang lelah. Walaupun hujan turun, kami tetap mengikuti arahan pimpinan demi tercapainya kemeriahan Uroe Lahè Pidie ke-515,”

Menurutnya, stan sengaja diisi dengan berbagai adat dan budaya gampong sebagai bentuk pengenalan kepada masyarakat Pidie secara luas, sekaligus menjadi pengingat khusus bagi masyarakat Muara Tiga agar tidak melupakan akar budayanya.

“Stan Muara Tiga banyak adat budaya gampong yang kami tunjukkan kepada warga Pidie umumnya, dan khususnya kepada warga Gampong Muara Tiga,” katanya.

Ia menegaskan bahwa adat yang diwariskan para pendahulu tidak boleh dibiarkan hilang begitu saja.

“Kita perlu mengingat adat budaya gampong, jangan sampai sirna begitu saja. Adat tersebut lahir dari orang-orang sebelum kita dan sudah menjadi adat kampung,” tegasnya.

Pesan dari stan Muara Tiga pun jelas: kemajuan zaman tidak boleh membuat generasi muda kehilangan jejak leluhur. Sampan dayung, boat langga, boat tompel, todung bambu hingga kuliner tradisional seperti mie sure bukan sekadar benda dan makanan, tetapi bagian dari cerita panjang kehidupan masyarakat yang layak dikenang dan diteruskan.

Di tengah perayaan 515 tahun Pidie, Muara Tiga memilih menghadirkan masa lalu untuk berbicara kepada masa depan, bahwa sebuah daerah akan kehilangan sebagian jati dirinya apabila adat dan budaya yang diwariskan leluhur dibiarkan perlahan menghilang.