SIGLI – Bukan sekadar menggelar pelatihan, SLB Permata Aceh Sigli di bawah Yayasan Permata Aceh Mulia (YPAM) mulai memperkuat barisan guru untuk menghadapi tantangan pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK). Sebanyak 21 guru dan tenaga kependidikan digembleng selama delapan jam penuh dalam Pelatihan Penyusunan Perangkat Ajar, Sabtu (22/8/2026).
Acara Berlangsung di Aula SD Permata Aceh, Gampong Kampong Baro, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, pelatihan dimulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Para peserta tidak hanya menerima teori, tetapi diajak membedah perangkat pembelajaran agar dapat disesuaikan dengan karakter, potensi, hambatan, dan kebutuhan unik setiap siswa.
Kacabdin: Perangkat Ajar Adalah “Senjata” Guru ABK
Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah Kabupaten Pidie, Taufiq, S.Pd., M.Pd., yang membuka kegiatan tersebut, menegaskan bahwa mendidik ABK membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengajar.
“Mengajar anak berkebutuhan khusus memang bukan perkara mudah. Tapi dengan semangat, keikhlasan, dan perangkat ajar yang terukur, tantangan itu akan terasa lebih ringan. Perangkat ajar ini senjata utama seorang pendidik,” tegas.
Ia juga meminta jajaran wakil kepala sekolah dan seluruh tenaga pendidik memperkuat sinergi untuk membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas di lingkungan SLB Permata Aceh.
Tidak Bisa Disamaratakan, Kurikulum Harus Menyesuaikan Anak
Kepala SLB Permata Aceh, Salmiati, S.Pd., M.Ed., menegaskan bahwa kemampuan guru dalam menyusun perangkat ajar merupakan bagian penting dalam menentukan kualitas layanan pendidikan bagi ABK.
Menurutnya, setiap anak memiliki keunikan masing-masing sehingga pola pembelajaran yang seragam tidak selalu dapat menjawab kebutuhan mereka.
“Setiap anak istimewa punya keunikan dan potensi berbeda. Karena itu adaptasi kurikulum menjadi mutlak. Tujuannya agar mereka bisa berkembang optimal sesuai kemampuan masing-masing,” ujar Salmiati.
Ia menambahkan, penguatan kompetensi guru melalui pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen sekolah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan khusus di Kabupaten Pidie.
Bunda Hetti: Guru Harus Jadi Benteng Perlindungan Anak
Persoalan pendidikan ABK, kata Pembina YPAM Sigli, Bunda Hetti Zuliani, M.Pd., Ph.D., CHt, CI., tidak berhenti pada pencapaian akademik. Guru juga memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan anak mendapatkan perlindungan dan pendampingan yang tepat.
Dosen Konseling USK Banda Aceh itu mengingatkan adanya berbagai tantangan yang dapat mengancam anak, mulai dari perundungan, kekerasan seksual, penyimpangan perilaku hingga persoalan kesehatan.
“Guru SLB harus menjadi benteng utama bagi anak-anak istimewa kita. Di tengah tantangan zaman yang kompleks, mulai dari perundungan, kekerasan seksual, penyimpangan perilaku, hingga ancaman kesehatan, guru wajib memiliki kepekaan tinggi,” tegas Bunda Hetti.
Ia mendorong sekolah agar pendidikan karakter dan kecakapan hidup mendapat perhatian serius sehingga siswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan melindungi diri dan membangun kemandirian.
Dari Asesmen hingga PPI, Guru Dibekali Perangkat yang Lebih Presisi
Pelatihan dipandu Pengawas Pembina sekaligus Pakar Perangkat Ajar, Husniah, S.Pd., M.Pd. Materi dirancang praktis dengan mengajak guru membedah kurikulum nasional dan menerjemahkannya ke dalam kebutuhan pendidikan khusus.
Tahapan dimulai dengan asesmen diagnostik, yakni mengenali potensi, hambatan, serta gaya belajar setiap siswa. Setelah itu guru diarahkan melakukan modifikasi Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) secara berdiferensiasi.
Tahap berikutnya adalah penyusunan Program Pembelajaran Individual (PPI). Melalui PPI, pembelajaran dirancang lebih spesifik berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing peserta didik.
“Dengan PPI, perangkat ajar benar-benar menjadi senjata tajam yang fungsional di tangan guru,” jelas Husniah.
Bukan Sekadar Mengajar, Tapi Menyiapkan Masa Depan Anak
Pelatihan delapan jam tersebut menjadi penegasan bahwa pendidikan ABK membutuhkan guru yang tidak hanya mampu berdiri di depan kelas, tetapi juga mampu membaca kebutuhan setiap anak dan menerjemahkannya ke dalam pembelajaran yang tepat.
SLB Permata Aceh Sigli melalui YPAM berupaya mendorong pendidikan khusus yang lebih adaptif, terarah dan bermakna. Sebab bagi anak berkebutuhan khusus, perangkat ajar bukan sekadar dokumen administrasi, melainkan bagian dari strategi untuk membuka potensi dan membangun masa depan mereka.
Dengan guru yang semakin kompeten, kurikulum yang adaptif, dan perlindungan yang kuat, setiap anak diharapkan tidak hanya mampu belajar, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dan percaya diri.











