Malintang – Gelombang desakan dari warga dan wali murid agar pimpinan MTs GUPPI Malintang segera diganti semakin menguat. Amir Mahmud yang saat ini menjabat sebagai Kepala Madrasah didesak untuk mundur karena dinilai gagal membawa kemajuan bagi madrasah dan dianggap tidak mampu menjaga kepercayaan masyarakat.
Sejumlah warga yang ditemui awak media, Rabu (20/05/2026), mengaku kecewa terhadap kepemimpinan Amir Mahmud yang disebut bersikap arogan dan terlalu ambisius mempertahankan jabatan. Warga juga mempertanyakan proses pengangkatan Amir Mahmud sebagai Kepala MTs yang dinilai tidak transparan dan diduga penuh rekayasa.
Salah seorang wali murid berinisial A Lubis mengungkapkan, setelah wafatnya H. Azhari Hasibuan yang sebelumnya menjabat Kepala MTs sekaligus Ketua Yayasan pada Agustus 2025, Amir Mahmud diduga mengangkat dirinya sendiri menjadi Kepala Madrasah tanpa melalui prosedur resmi maupun musyawarah bersama pihak terkait.
“Pengangkatan itu tidak melalui rapat yayasan, dewan guru, komite madrasah, wali murid, BPD maupun pemerintah desa. Warga merasa tidak dihargai dan prosesnya dinilai tidak mencerminkan nilai moral pendidikan,” ujar sumber tersebut.
Keluhan warga semakin bertambah setelah hampir setahun kepemimpinan Amir Mahmud dinilai tidak membawa perubahan positif bagi madrasah. Warga justru menilai kondisi sekolah mengalami kemunduran, mulai dari kedisiplinan siswa, menurunnya jumlah peserta didik baru, hingga kegiatan ekstrakurikuler yang disebut nyaris tidak berjalan.
Selain itu, warga juga menyoroti kondisi sarana dan prasarana madrasah yang dinilai memprihatinkan. Beberapa ruang belajar masih menggunakan papan tulis kapur, sementara fasilitas seperti meja, kursi, hingga bagian bangunan sekolah disebut banyak yang rusak berat dan belum mendapat perhatian.
Seorang warga bermarga Batubara mengatakan, Amir Mahmud juga disebut jarang hadir di sekolah sehingga berdampak terhadap lemahnya pengawasan dan pembinaan terhadap siswa maupun tenaga pengajar. Bahkan, menurut warga, kegiatan upacara bendera rutin pada hari Senin juga sangat jarang dilaksanakan.
“Kami hanya ingin madrasah ini kembali maju dan bermanfaat bagi masyarakat. Tapi kenyataannya justru semakin memprihatinkan sejak dipimpin Amir Mahmud,” ungkap warga tersebut.
Tidak hanya soal kepemimpinan, warga juga menyoroti pengelolaan Dana BOS di madrasah yang memiliki sekitar 140 siswa tersebut. Salah seorang warga bermarga Hasibuan menduga tata kelola dana BOS tidak transparan dan berpotensi menimbulkan penyimpangan.
Menurutnya, warga telah mengumpulkan sejumlah data dan temuan terkait dugaan pengelolaan dana yang dinilai tidak melibatkan dewan guru maupun komite madrasah. Bahkan warga mempertimbangkan untuk melaporkan dugaan tersebut kepada aparat penegak hukum agar dilakukan penyelidikan lebih lanjut.
Warga berharap Kementerian Agama Kabupaten Mandailing Natal bersama pihak terkait seperti pemerintah kecamatan, BPD, tokoh masyarakat, dewan guru, dan wali murid segera turun tangan mencari solusi terbaik demi menyelamatkan masa depan MTs GUPPI Malintang agar kembali menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas dan dipercaya masyarakat.











