Aceh Timur,1-penan.com : Delapan bulan setelah bencana banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Timur, banyak warga terdampak mengaku hingga kini belum memperoleh kejelasan terkait bantuan dan program pemulihan pascabencana. Kondisi tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat yang masih berjuang memulihkan kehidupan mereka.
Sejumlah keluarga dilaporkan kehilangan tempat tinggal, modal usaha, hingga sumber mata pencaharian akibat bencana yang terjadi beberapa bulan lalu. Dampaknya, kondisi ekonomi warga semakin terpuruk dan banyak keluarga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ketua Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Aceh Timur, Hendrika Saputra, A.Md, yang juga menyuarakan aspirasi masyarakat melalui aksi orasi, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi korban banjir yang hingga kini masih menunggu kepastian bantuan.
“Sudah delapan bulan masyarakat menunggu kepastian. Banyak warga yang masih hidup dalam kesulitan. Ada yang kehilangan rumah, kehilangan usaha, bahkan anak yatim dan kelompok rentan yang masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah,” ujar Hendrika, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, masyarakat berharap pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, maupun Pemerintah Kabupaten Aceh Timur segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat penyaluran bantuan serta program pemulihan ekonomi bagi warga terdampak banjir.
Selain persoalan bantuan, sejumlah warga juga mengeluhkan persyaratan administrasi yang dinilai memberatkan. Salah satunya terkait permintaan dokumen kepemilikan tanah sebagai syarat pengajuan bantuan. Banyak korban mengaku kesulitan memenuhi persyaratan tersebut karena dokumen mereka hilang atau rusak akibat terendam banjir.
“Masyarakat berharap ada kebijakan yang mempermudah korban bencana. Jangan sampai warga yang sudah kehilangan rumah dan harta benda kembali dipersulit dengan persoalan administrasi yang tidak mampu mereka penuhi,” katanya.
Hendrika menegaskan bahwa masyarakat tidak menginginkan janji semata, melainkan tindakan nyata yang dapat membantu mereka bangkit dari keterpurukan pascabencana. Ia meminta seluruh pihak terkait untuk segera turun tangan dan memberikan solusi yang berpihak kepada korban.
“Kami hanya ingin keadilan, kepastian, dan perhatian bagi masyarakat kecil yang menjadi korban banjir. Delapan bulan adalah waktu yang cukup lama untuk menunggu,” tegasnya.
Masyarakat berharap proses pemulihan pascabencana dapat segera direalisasikan agar kehidupan sosial dan ekonomi warga terdampak dapat kembali normal serta mampu menjalani aktivitas seperti sediakala.
(Hs)











