Opini, 1-Pena.com – Jangan mengaku sebagai orang baik jika kebahagiaanmu lahir dari melihat orang lain jatuh. Sebab kebaikan tidak membutuhkan korban untuk membuktikan dirinya hebat.
Ada orang yang lantang bicara tentang moral, etika, dan kebaikan, tetapi ketika melihat orang lain mulai tumbuh, yang muncul justru keinginan untuk menjatuhkan. Kesalahan kecil dibesar-besarkan, kekurangan diumbar, masa lalu dijadikan senjata, dan keterpurukan dijadikan tontonan.
Lalu semuanya dibungkus dengan alasan, “Saya hanya menyampaikan kebenaran.”
Benarkah? Atau itu sekadar cara halus untuk menyembunyikan niat merendahkan.
Kritik dan penghinaan bukan hal yang sama. Mengingatkan tidak harus mempermalukan. Mengoreksi tidak harus menghancurkan. Kebenaran tidak pernah menjadi alasan untuk kehilangan rasa kemanusiaan.
Menjatuhkan orang lain juga tidak membuat kita lebih tinggi. Membuat seseorang gagal tidak otomatis membuat kita sukses. Mempermalukan orang lain tidak menjadikan kita lebih terhormat.
Jika harga diri kita baru terasa tinggi setelah harga diri orang lain dihancurkan, yang tinggi mungkin bukan kita melainkan ego kita.
Orang yang benar-benar kuat tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain. Ia tidak sibuk mencari kelemahan untuk membuat orang lain terlihat kecil. Ia memahami bahwa keberhasilan seseorang tidak mengurangi nilai dirinya.
Begitu pula ketika seseorang jatuh. Jangan buru-buru menginjak. Jika mampu, ulurkan tangan. Jika salah, ingatkan. Jika gagal, beri ruang untuk memperbaiki diri.
Sebab manusia tidak selamanya berada di atas, dan tidak selamanya berada di bawah.
Hari ini kita mungkin memiliki jabatan, pengaruh, uang, atau kekuasaan. Besok keadaan bisa berubah. Orang yang hari ini kita remehkan bisa saja menjadi orang yang lebih kuat. Bahkan orang yang hari ini kita tinggalkan mungkin suatu saat menjadi tangan yang kita butuhkan.
Karena itu, jangan terlalu sibuk mencari kelemahan orang lain sampai lupa memperbaiki kelemahan diri sendiri. Jangan begitu bersemangat membuka aib orang lain sampai lupa bahwa diri kita pun tidak sempurna.
Ukuran kebaikan bukan seberapa banyak orang yang berhasil kita kalahkan, melainkan seberapa banyak orang yang menjadi lebih kuat setelah pernah bertemu dengan kita.
Jika punya kekuatan, gunakan untuk mengangkat. Jika punya ilmu, gunakan untuk membimbing. Jika punya pengaruh, gunakan untuk membuka jalan, bukan menghancurkan orang lain agar diri sendiri terlihat lebih besar.
Sebelum menjatuhkan seseorang, tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah kita sedang memperbaiki keadaan, atau hanya sedang menikmati kejatuhan orang lain?
Sebab kalau untuk terlihat tinggi kita harus membuat orang lain rendah, mungkin yang perlu dinaikkan bukan posisi kita, melainkan kualitas diri kita.
(Redaksi )











