Opini : Saya, Pit Waine, mahasiswa Papua yang sedang menempuh pendidikan di Gorontalo. Dari tanah perantauan, saya sering merindukan gunung-gunung di kampung halaman. Kerinduan itu bukan sekadar pada bentang alam yang indah, tetapi pada makna yang terkandung di dalamnya.

Ketika sebagian orang melihat gunung, yang terlihat adalah kandungan emas, nikel, atau tembaga. Perhitungannya adalah berapa ton yang bisa diambil dan berapa triliun yang bisa dihasilkan.

Namun ketika orang Papua memandang gunung, yang kami lihat adalah kepala leluhur. Yang kami hitung bukan nilai ekonominya, melainkan berapa generasi yang telah hidup bersamanya, berapa doa yang dipanjatkan di sana, dan berapa cerita yang diwariskan dari nenek moyang.

Beda kacamata, beda pula nasib gunungnya.

Filsafat Tanah Orang Papua: Tiga Hukum Nenek

Nenek saya tidak pernah kuliah geologi. Ia tidak membaca teori-teori lingkungan modern. Namun, ia mengajarkan tiga hukum tentang tanah yang usianya jauh lebih tua daripada berbagai regulasi yang dibuat manusia hari ini.

1. Tanah Adalah Ibu

Bagi orang Papua, tanah adalah ibu. Dan seorang ibu tidak untuk dijual, melainkan dirawat.

Kami menggali tanah untuk berkebun, bukan untuk melukainya. Kami mengambil hasil bumi secukupnya, lalu menjaga agar tanah tetap subur dan mampu memberi kehidupan bagi generasi berikutnya. Hubungan kami dengan tanah bukan hubungan pemilik dan barang, melainkan hubungan anak dengan ibunya.

2. Gunung Adalah Kepala

Dalam pemahaman kami, gunung adalah kepala. Kepala adalah tempat martabat, kehormatan, dan roh kehidupan.

Ketika gunung digali tanpa batas, yang terluka bukan hanya batu dan tanah. Yang ikut terluka adalah martabat masyarakat yang hidup di sekitarnya. Ketika puncak gunung dipotong demi kepentingan ekonomi, maka sejarah dan identitas yang melekat pada gunung itu pun perlahan ikut terpotong.

3. Sungai Adalah Urat Nadi

Sungai adalah urat nadi kehidupan. Karena itu, sungai tidak boleh disumbat atau dicemari limbah.

Air yang mengalir dari pegunungan hingga ke laut adalah darah yang menghidupi seluruh ekosistem. Jika darah itu tercemar, maka seluruh tubuh akan sakit. Hutan, satwa, manusia, dan laut akan merasakan dampaknya.

Bagi sebagian orang, pandangan ini mungkin dianggap sebagai kepercayaan tradisional. Namun sesungguhnya di dalamnya terkandung pengetahuan ekologis yang telah diwariskan selama ribuan tahun. Pengetahuan yang menjaga hutan Papua tetap berdiri ketika banyak kawasan lain di dunia kehilangan hutannya.

Menjaga Masa Depan

Papua tidak menolak pembangunan. Papua tidak menolak kemajuan. Namun kemajuan seharusnya tidak dibangun dengan mengorbankan identitas, merusak alam, dan menghilangkan ruang hidup masyarakat adat.

Gunung bukan sekadar tumpukan batu yang menyimpan mineral. Gunung adalah bagian dari kehidupan, sejarah, dan jiwa masyarakat Papua. Ketika gunung dipandang hanya sebagai tambang, maka yang hilang bukan hanya alam, tetapi juga nilai-nilai yang selama ini menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

Karena itu, sebelum melihat gunung sebagai sumber keuntungan, cobalah melihatnya sebagai sumber kehidupan.

Sebab bagi kami, orang Papua, gunung bukan tambang. Gunung adalah warisan leluhur yang harus dijaga untuk anak cucu yang akan datang.

Oleh: Pit Waine

Editor: Maleaki Tipagau