SIGLI – Gaung Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-XXVII tingkat Kabupaten Pidie tahun 2026 mulai terasa. Kecamatan Mutiara Timur bersiap menjadi pusat perhatian dengan menyambut 770 peserta dari 23 kecamatan. Namun, di balik perhelatan syiar Islam tersebut ada target besar yang tak kalah penting jangan sampai kemeriahan MTQ hanya menjadi tontonan, sementara masyarakat tuan rumah tidak mendapatkan manfaat ekonomi.
MTQ yang dijadwalkan berlangsung pada 7–13 November 2026 ini menjadi ujian bagi panitia untuk membuktikan bahwa kegiatan keagamaan berskala kabupaten mampu menghadirkan dampak nyata, bukan sekadar sukses seremoni dan kemegahan panggung.
Koordinator Lapangan (Korlap) MTQ XXVII, drh. H. Fazli, M.Si., yang juga Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Kabupaten Pidie, mengungkapkan bahwa persiapan hingga Jumat (30/10/2026) baru mencapai 60 persen.
Hal itu disampaikannya setelah meninjau langsung sejumlah lokasi persiapan di Kecamatan Mutiara Timur.
“Alhamdulillah, persiapan terus kita kebut. Kita ingin MTQ kali ini bukan hanya sukses pelaksanaan, tetapi juga sukses syiar dan sukses pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujar Fazli.
770 Peserta, 138 Official, Delapan Cabang Dipertandingkan
Sebanyak 770 peserta dari 23 kecamatan akan mengikuti delapan cabang perlombaan, yakni Tilawah, Qira’ah Sab’ah, Fahmil Quran, Khattil Quran, Tafsir, Syarhil Quran, Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ), dan Tahfiz.
Panitia juga menyiapkan 60 personel yang terdiri atas dewan hakim, panitera, dan sekretaris dewan hakim, serta 138 official yang mendampingi kafilah.
Empat lokasi perlombaan telah disiapkan, yakni Mimbar Utama di Lapangan Mutiara, Mimbar I di Masjid Al Huda Blang Malu, Mimbar II di SMA Mutiara, dan Mimbar III di SD Mutiara.
Untuk pemondokan, sebanyak 35 rumah warga akan difungsikan sebagai tempat singgah kafilah dari 23 kecamatan.
Uang MTQ Jangan Hanya Berhenti di Meja Panitia, Salah satu gebrakan yang ditonjolkan dalam penyelenggaraan MTQ kali ini adalah keberpihakan terhadap ekonomi masyarakat.
Fazli mengatakan, konsep MTQ yang diketuai Wakil Bupati Pidie, Alzaizi Umar, sengaja diarahkan agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menikmati manfaat ekonomi dari kegiatan tersebut.
Panitia menyerahkan pengelolaan konsumsi peserta kepada masyarakat pemilik rumah pemondokan. Begitu pula kebutuhan makan dan snack dewan hakim akan dikelola melalui rumah-rumah warga.
“Dampak ekonomi yang sangat terasa adalah seluruh biaya makan peserta MTQ kita serahkan kepada masyarakat pemilik rumah pemondokan kafilah dari 23 kecamatan. Dewan hakim juga makan dan snack-nya kita kelola di rumah masyarakat,” jelas Fazli.
Tidak hanya itu, kebutuhan snack selama kegiatan juga akan melibatkan pelaku UMKM di Kecamatan Mutiara dan Mutiara Timur.
Sementara pasar kaget dan pasar malam di sekitar arena akan diserahkan pengelolaannya kepada pihak Kecamatan Mutiara Timur. Kesempatan ini diharapkan menjadi ladang usaha bagi pedagang kecil untuk meningkatkan pendapatan selama kegiatan berlangsung.
Dengan ratusan peserta, official, dewan hakim, dan pengunjung yang diperkirakan memadati lokasi, momentum ini seharusnya menjadi peluang ekonomi yang tidak boleh disia-siakan.
Jangan Sampai Sukses di Panggung, Gagal Memberdayakan Rakyat, Besarnya anggaran, tenaga, dan persiapan yang dikerahkan untuk MTQ tentu harus berbanding lurus dengan manfaat yang diterima masyarakat.
Sukses penyelenggaraan tidak cukup hanya ditandai dengan pembukaan meriah, panggung megah, dan lahirnya para juara. Lebih dari itu, keberhasilan harus terlihat dari keterlibatan masyarakat, terbukanya peluang usaha, serta bergeraknya roda ekonomi warga.
Komitmen melibatkan pemilik rumah pemondokan, UMKM, dan pedagang kecil merupakan langkah positif. Namun, realisasinya tetap harus dikawal agar manfaat yang dijanjikan benar-benar sampai kepada masyarakat.
Fazli berharap, pelaksanaan MTQ XXVII tidak hanya meninggalkan kenangan religius, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh warga.
“Harapan kita, selain sukses pelaksanaan dan sukses syiar, perputaran uang selama kegiatan ini benar-benar dirasakan warga,” pungkasnya.
Kini, Mutiara Timur tidak hanya ditantang menjadi tuan rumah yang baik, tetapi juga membuktikan bahwa syiar Islam bisa berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat.
MTQ yang sukses bukan hanya melahirkan juara di atas mimbar, tetapi juga membuat rakyat merasakan manfaat dari setiap kegiatan yang digelar atas nama kepentingan umat.









